Sunday, 17 January 2010

SERI I NOMER 012

BUKU 12.1
BETAPAPUN kebimbangan bergelora di dalam batinnya, namun akhirnya Sumangkar itu tidak juga dapat membiarkan kekalahan demi kekalahan melanda pasukan murid kakak seperguruannya. Karema itu berkali-kali terdengar ia berdesah, kemudian menggeram. Wajahnya semakin lama menjadi semakin tegang. Dan orang tua itu menjadi semakin kuat menggenggam senjatanya.
Ketika ia mendengar orang-orang Pajang bersorak, seakan-akan dirinyalah yang disorakinya. Seorang tua yang tidak berarti dan tidak tahu diri.
Di dalam arena pertempuran itu sendiri, Sanakeling terpaksa melihat kenyataan, bahwa adik Untara yang bernama Agung Sedayu itu benar-benar seorang anak muda yang tangguh. Anak muda yang lincah dan cekatan. Geraknya kadang-kadang terasa aneh dan membingungkan. Sebenarnya Agung Sedayu mempunyai cara yang khusus dalam olah pertempuran. la tidak saja mempergunakan unsure-unsur yang dipelajarimja dari gurunya, dari ajahnya, dari kakaknya, dan dari pengalamannya yang sedikit itu, tetapi Agung Sedayu telah berhasil membuat cara-cara dan unsure-unsur tersendiri, karena ketekunannya membuat gambar-gambar di atas rontal.
Sehingga sanakeling yang dengan tatag berani melawan Widura kini terpaksa bertempur dengan memeras segenap ilmu yang dimilikinya.
Di induk pasukan Tohpati pun mengalami banyak kesulitan. Apalagi setelah Untara dapat melepaskan segenap perhatiannya atas sayap kanannya yang agak mengalami kesulitan. Kini sayap itu telah menjadi mantap kembali. Karena itu ia tinggal memusatkan perhatiannya kepada Tohpati dan induk pasukannya. Namun Sonya, di sisi kiri dan Swandaru di sisi kanan, ternyata banyak membantunya, memperingan tekanan-tekanan yang Iangsung ke pusat pasukannya.
Apalagi di sayap kiri, Widura telah mencoba mempengaruhi seluruh medan lewat sayapnya. Dikerahkannya kekuatan sayapnya untuk mendesak semakin maju. Kemenangan yang dicapainya diharapkannya dapat langsung menimbulkan pengaruh pada induk pasukan lawan dan lebih-lebih bagi Tohpati sendiri. Menurut perhitungan Widura, kini telah sampai saatnya, Tohpati mengalami kesulitan yang sama seperti yang dialami oleh Untara di permulaan peperangan ini.
Sekali-sekali terdengar di induk pasukan, Tohpati menggeram sambil menggeretakkan giginya. Kemarahannya telah memuncak sampai ke ujung ubun-ubunnya. Tetapi ia tidak mau hangus terbakar oleh kemarahannya. Karena itu, ia masih mempergunakan segenap kesadaran serta perhitungan. la harus bertanan sampai matahari terbenam meskipun seandainya harus menarik mundur pasukannya benerapa langkah untuk beberapa kali. Tetapi ia harus memelihara agar pasukannya tidak terpecah. Sebab dengan demikian, maka akan hilanglah gairah segenap anak buahnya. Hati mereka akan berkeriput sekecil nati tikus. Apapun yang akan dilakukan besok, apabila hati anak buahnya masih tetap terpelihara seperti hari ini, maka kemungkinan-kemungkinan lain masih akan terjadi.
Namun ia masih harus menghadapi kenyataan. Pasukan Pajang dan Sangkal Putung mendesaknya seperti prahara.
Sumangkar yang melihat kekalahan-kekalahan yang semakin lama semakin sering, menjadi kehilangan segenap keragu-raguannya. Bara yang menyala di dalam dadanya terasa menjadi semakin panas. Dan tiba-tiba terdengar ia bergumam, “Tahanlah sesaat ngger, mudah-mudahan aku akan dapat membantumu.”
Kata-kata Sumangkar itu, seakan-akan merupakan sebuah perintah bagi dirinya sendiri. Tiba-tiba terasa darahnya bergolak. Usianya yang sudah lanjut itu sama sekali tidak berpengaruh atas ilmu dan ketangkasannya. Bahkan semakin tua ilmunya menjadi semakin masak, dan segala geraknya menjadi semakin mapan.
Demikianlah dengan sigapnya Sumangkar meloncat turun dari bongkahan tanah padas. Kemudian diamat-amatinya tongkatnya sambil bergumam kepada diri sendiri, “Masa itu datang kembali.” Dan kepada tongkatnya ia berkata, “Kau sudah terlalu lama beristiratat. Marilah kita bekerja kembali. Aku tidak akan membawamu bertempur melawan kelinci-kelinci yang tidak berdaya dari sangkal Putung dan Pajang. Pekerjaanmu hanya mempengaruhi tekad dan gairah peperangan itu. Tolonglah aku, karena aku terpaksa, menyingkirkan angger Untara.”
Sumangkar itu kemudian mengangkat wajahnya. Di berbagai tempat dilekukan-lekukan tanah yang dalam, masih dilihatnya air yang tergenang sisa hujan semalam, meskipun karena panas yang terik di sana-sini tampak debu yang berhamburan.
“Maafkan aku Angger Untara,” desisnya, “aku terpaksa melakukannya.”
Sumangkar itu kemudian menggigit bibirnya, seolah-olah ia sedang mengusir parasaan lain yang mengganggunya. Kemudian dengan dada tengadah ia melangkah menuju kearena peperangan.
Namun tiba-tiba langkah orang tua itu terhenti. Lamat-lamat ia mendengar orang memanggilnya. Perlahan-lahan seperti sebuah bisikan.
“Adi Sumangkar. Adi, berhentilah sebentar.”
Langkah sumangkar tertegun. Dipalingkannya wajahnya. Dan ia benar-benar terkejut ketika dilihatnya seseorang duduk di bawah sebuah gerumbul kecil di samping bongkahan tanah padas tempatnya berdiri menyaksikan peperangan itu.
Tetapi Sumangkar itupun telah menyimpan pengalaman yang banyak sekali di dalam dirinya, sehingga sesaat kemudian ia sudah berhasil menguasai dirinya. Bahkan sambil tersenyum ia menjawab, “Ah. Aku terkejut mendengar sapa Ki Sanak.”
Orang itu mengangguk. “Maafkan kalau aku mengejutkanmu. Bukan maksudku berbuat demikian, sehingga karena itu, aku menyapamu perlahan-lahan.”
“Ya, ya. Kau sudah berhati-hati. Tetapi orang-orang tua seperti aku ini memang mudah menjadi terkejut. Bukankah begitu.”
Orang itupun tersenyum. Orang itupun sudah setua Sumangkar, bahkan setahun dua tahun di atasnya. Sambil tersenyum ia menjawab, “Benar. Kau benar Adi. Orang-orang tua mudah benar menjadi terkejut.”
Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Apakah Ki Sanak memerlukan aku?”
“Ya,” sahut orang itu. “Aku ingin mempunyai seorang kawan untuk melihat peperangan itu.”
“Baik,” jawab Sumangkar, “aku akan mengawanimu. Tetapi biarlah aku melihatnya dahulu dari dekat. Nanti aku akan segera kembali.”
Orang tua itu menggeleng. Sambil masih duduk bersandar sebongkah padas ia menggeleng, “Jangan nanti. Dan sebaiknya Adi tidak usah pergi ke arena. Bukankah di sana tempat anak-anak muda saling menyombongkan kecakapan mereka memainkan senjata? Sama sekali bukan tempatnya orang-orang tua seperti kita?”
Dada Sumangkar berdesir. Sebagai seorang yang telah cukup makan asin pahit penghidupan, segera ia menyadari maksud kata-kata itu. Karena itu maka kemudian iapun tersenyum. Ia berdiri menghadap orang yang duduk bersandar padas itu. Perlahan-lahan mengangguk-angguk sambil tersenyum. Senyumnya membayangkan tanggapannya atas orang itu.
Sumangkar itupun segera mengerti siapakah yang duduk di hadapannya. Orang itu pasti seorang yang pilih tanding sehingga Sumangkar sama sekali tidak mengetahui kehadirannya. Sikapnya dan kata-katanya yang tenang meyakinkan. Sorot matanya yang tajam menembus langsung ke pusat jantungnya.
Dan ternyata sesaat kemudian sumangkar segera mengetahui, meskipun ia belum pasti. Tetapi tidak ada orang lain yang dapat disangkanya, orang yang duduk di hadapannya itu. Sehingga karena itu maka segera ia berkata, “Hem. Bukankah Kakang yang menamakan diri Kiai Gringsing?”

Orang itu mengangguk sambil tertawa kecil. Katanya, “Dari mana Adi tahu tentang aku?”
“O,” sahut Sumangkar, “bukankah kita pernah bertemu? Bukankah Kiai pernah mengunjungi daerah ini bersama dua orang murid Kakang selagi aku sedang bermain-main dengan K i Tambak Wedi bersama muridnya yang bernama Sidanti.”
Orang tua itu, yang sebenarnya adalah Gringsing, tertawa pula. Katanya, “Benar. Benar. Ingatanmu baik sekali Adi. Ternyata meskipun saat itu malam tidak terlalu terang, kau masih juga dapat mengenal aku.”
Sumangkar tertawa pula. Namun hatinya berdebar-debar menghadapi persoalan yang tiba-tiba saja tumbuh. Sudah tentu Kiai Gringsing akan berbuat sesuatu, apabila ia benar-benar akan terjun ke dalam arena. Karena itu, maka ia harus menentukan suatu sikap untuk mengatasi setiap perkembangan keadaaan.
Tanpa sesadarnya tiba-tiba ia berpaling ke arah peperangan yang masih saja berkobar dengan dahsyatnya. Sekali lagi dadanya berdesir. Ia melihat beberapa bagian dari gelar Dirada Meta telah terdesak-mundur. Gelar perang yang tangguh itu benar-benar sudah berada dalam bahaya.
“Kiai,” berkata sumangkar itu kemudian, “aku tidak banyak mempunyai waktu. Apakah Kiai tidak berkeberatan apabila Kiai duduk di sini sebentar? Aku akan pergi ke arena itu, ikut serta dengan anak-anak Jipang bermain-main senjata.” (BERSAMBUNG)
BUKU 12.2
“Ah,” sahut Kiai Gringsing perlahan-lahan. “Sudahlah. Jangan melelahkan diri sendiri, marilah duduk di sini. Kita lihat pertunjukan itu.”
“Kau aneh Kiai,” berkata Sumangkar. “Pertunjukan itu terlalu menjemukan bagiku. Apakah tidak demikian bagimu?”
Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ia melihat Sumangkar berdiri tegak seperti sebatang tonggak yang kokoh. Karena itu maka perlahan-lahan orang tua itupun berdiri. Banyak hal yang dapat terjadi menilik sikap Sumangkar itu.
“Apakah yang akan kau lakukan atas permainan yang menjemukan itu?” bertanya Ki Tanu Metir.
Sumangkar terdiam sesaat. Sekali lagi ia berpaling, dan sekali lagi ia melihat pasukan Jipang yang terdorong mundur beberapa langkah.
“Kiai Gringsing,” berkata Sumangkar, “aku adalah seorang bawahan dari Macan Kepatihan. Apakah aku akan dapat berdiam diri melihat pertempuran itu? Ternyata Angger Untara memliliki kecemerlangan rencana untuk menghadapi Macan Kepatihan. Sebelum ini aku mengagumi ketangguhan dan ketangkasan pasukan Jipang di bawah pimpinan Tohpati. Namun ketika akan melihat cara yang ditempuh dan perhitungan-perhitungan yang matang dari Angger Untara, maka aku benar-benar menundukkan kepala untuk itu.”
Kiai Gringsing mengangguk-angguk kepalanya. Sahutnya, “Lalu, bagaimana sekarang?”
“Aku harus ikut dalam permainan itu, Kiai berkeberatan?”
“O, tidak. Tentu tidak. Adalah menjadi kewajibanmu untuk melakukannya. Bukankah kau seorang prajurit?”
Sumangkar menjadi bimbang mendengar jawaban itu. Ia tidak dapat mengerti kenapa Kiai Gringsing seakan-akan membiarkan untuk berbuat sesuatu atas pertempuran itu. Namun Sumangkar bukan anak-anak yang mudah terpedaya oleh ucapan-ucapan yang meragukan. Karena itu, maka ia tidak akan dapat mempercayainya, seandainya Kiai Gringsing dengan sukarela membiarkannya masuk ke dalam arena. Meskipun demikian katanya, “Terima kasih Kiai. Agaknya Kiai akan bersabar menunggu aku kembali dari arena.”
“Nanti dulu, Adi,” sahut Ki Tanu Metir.
Sumangkar tertegun sejenak. Tetapi ia sebelumnya telah memperhitungkannya, bahwa pekerjaannya akan bertambah berat. Ia tidak akan begitu saja dapat hadir di dalam peperangan itu, apalagi memusnahkan Untara, selagi Kiai Gringsing masih berada di tempat itu.
“Jangan tergesa-gesa.”
“Waktuku hanya sedikit Kakang. Lihatlah, pasukan Jipang telah terdesak jauh ke belakang garis benturan antara kedua gelar itu.”
“Belum Adi. Mereka sekarang berada pada garis yang terjadi pada saat kedua pasukan itu berbenturan. Kau hanya melihat pasukan Jipang terus menerus mundur. Tetapi aku melihat sejak pertempuran itu terjadi. Mula-mula pasukan Pajang dan anak-anak muda Sangkal Putunglah yang terdesak sampai jauh ke belakang garis itu. Sekarang mereka mendesak maju. Namun belum terlalu jauh melampaui garis benturan itu?
“O, agaknya kau lebih dahulu sampai di sini Kiai?”
“Aku melihat sejak peperangan itu mulai. Sejak pasukan Jipang muncul dari balik pepohonan hutan dangan panji-panji kebesaran, rontek dan umbul-umbul yang megah itu. Aku melihat pasukan Pajang dan anak-anak Sangkal Putung datang dari arah yang lain dengan ketiga panji-panji yang mereka agung-agungkan. Dan aku melihat bagaimana mereka berbenturan.”
“Hem,” Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kalau demikian, kau melihat kedatanganku pula Kakang.”
“Ya, aku melihat kau berdiri di sini. Sekali-sekali kau meloncat naik ke atas tanah padas itu. Sekali kau meloncat turun. Aku tidak akan mendekatimu, kalau aku tidak tertarik pada tongkat yang kau bawa itu. Tongkat itu mirip benar dengan tongkat Macan Kepatihan.”
Sumangkar mengangguk-angukkan kepalanya, “Ya tongkat ini memang mirip dengan tongkat Angger Tohpati.”
“Apakah Tohpati membagikan tongkat semacam itu kepada para prajuritnya?”
Sumangkar menarik alisnya. Namun demikian ia tersenyum. Jawabnya, “Pertanyaanmu membingungkan Kiai. Baiklah aku mencoba menjawabnya. Tongkat ini adalah ciri dari perguruan Kedung Jati. Aku kira Kiai sudah mengetahuinya pula.”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya,” sahutnya. “Macan Kepatihan adalah murid Mantahun. Saudara seperguruanmu.”
“Tepat. Bukanlah wajar kalau aku membantunya? Selain paman gurunya, aku adalah prajurit Jipang pula.”
“Sudah aku katakan, bahwa adalah kewajibanmu membantu Angger Tohpati. Namun aku ingin memberitahukan pula kepadamu. Kalau Tohpati itu murid kakak seperguruanmu, maka Untara adalah kakak dari muridku.”
Sumangkar menarik nafas. Ia melihat kemungkinan yang ada di hadapannya. Namun ia masih tersenyum, katanya, “Kalimat yang disilang-balikkan. Membingungkan Kiai.”
“Tidak terlalu sulit,” jawab Kiai Gringsing sambil tersenyum pula.
“Angger Tohpati adalah murid dari kakak seperguruanku. Jelas?”
“Ya, aku tahu.”
“Kalau demikian, maka kewajibanmu atas Angger Tohpati tidak akan jauh berbeda dari kewajibanku atas Angger Untara,” berkata Kiai Gringsing pula. “Namun aku tetap berdiam diri melihat angger Untara terdesak dengan sengitnya, sebelum laskar cadangan itu datang.”
Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Semuanya sudah pasti baginya. Tak ada jalan lain. Karena itu, maka lebih baik segala sesuatunya segera terjadi daripada masih harus menunggu perkembangan yang kecil sekali kemungkinannya.
Karena itu maka katanya, “Ada satu perbedaan Kiai. Aku prajurit Jipang. Apakah Kiai prajurit Pajang atau laskar Sangkal Putung? Seandainya demikian, maka kita berbeda pendirian. Mungkin Kiai dapat berdiam diri terhadap Untara, tetapi aku tidak akan dapat berbuat demikian. Aku harus menyingkirkan Angger Untara.”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya wajah Sumangkar dengan tajamnya, namun sekali-sekali ia berpaling memandangi arena pertempuran pula. Ia tahu benar bahwa Sumangkar tidak akan dapat dicegahnya dengan kata-kata. Tetapi ia masih ingin mencoba untuk memperpanjang waktu sehingga Sumangkar akan terlambat. Kiai Gringsing itupun melihat pula, bahwa pasukang Jipang sudah semakin lemah dan terus menerus terdesak mundur.
Maka katanya sambil tersenyum, “Jangan begitu Adi. Jangan berkata sekeras itu. Bukankah kita, yang tua-tua ini sudah tidak pantas ikut bermain-main dengan senjata? Sebaiknya kita duduk saja di sini sambil melihat kalau Adi setuju, marilah kita bertaruh, siapakah yang akan menang.”
“Apakah yang akan kita pertaruhkan?” bertanya Sumangkar. “Apakah Kiai, mempunyai barang-barang berharga?”
“Apa saja dapat kita pertaruhkan,” sahut Kiai Gringsing, “ikat kepala, kain panjang kita, atau timang kita?”
“Bagaimana kalau aku usulkan Kiai?” berkata Sumangkar.
Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum sambil menjawab, “Boleh. Barangkali Adi mempunyai usul yang baik.”
Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Taruhan kita adalah anak-anak muda itu. Macan Kepatihn dan Untara.
“He?” bertanya Kiai Gringsing sambil mengusap keningnya, “bagaimana mungkin? Kalau kita mengadu ayam, maka mereka adalah ayam jantan kita masing-masing.”
“Permainannyalah yang harus kita tentukan,” potong Sumangkar.
“Oh,” Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sumangkar sudah tidak akan dapat diperlunak lagi. Ternyata orang itu berkata, “Marilah kita yang berlomba, bukan hanya sekedar membuat taruhan.”
“Apakah. perlombaan itu?”
“Kita berlomba lari sampai ke arena,” ajak Sumangkar.
Kiai Gringsing menggeleng. “Aku bukan seorang pelari. Tetapi kalau Adi akan berlari, mungkin aku akan mencoba menangkanp ujung kainmu.”
Orang-orang tua itu sudah sampaj pada kemungkinan terakhir, menyelesaikan soal mereka dengan cara yang tak mereka kehendaki. Tetapi mereka tidak akan dapat berbuat lain. Mereka ternyata telah berada dalam puncak kemungkinan itu.
“Kiai Gringsing,” berkata Sumangkar kemudian, “Kiai telah pernah melihat aku bermain-main melawan Ki Tambak Wadi, tetapi aku belum pernah melihat, bagaimana Kiai melontarkan kaki. Karena itu, maafkan aku. Aku akan mulai dengan usulku. Terserahlah kepada Kiai, apakah Kiai akan turut serta berlomba lari atau tidak.”
Sumangkar tidak menunggu jawaban lagi. Segera ia melontar surut sambil memutar tubuhnya. Ia mengharap Kiai Gringsing akan meloncat mencegatnyat. Tetapi sumangkar menjadi kecewa, Kiai Gringsing belum beranjak dari tempatnya, katanya, “Apakah aka harus mengejarmu?”
Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Sambil menahan gelora di dadanya ia bertanya, “Kenapa Kiai tidak mengejar aku dan menangkap kainku seperti kata Kiai.”
“Aku akan mencobanya kalau kau betul-betul telah mulai dengan lomba itu.”
“Hem,” desis Sumangkar. Ia menjadi jengkel melihat ketenangan Kiai Gringsing. “Kiai yakin benar akan perhitungan Kiai? Aku pasti tidak akan berlari terus meninggalkan Kiai dengan membiarkan diriku membalakangi Kiai. Begitu? Aku tidak akan membiarkan punggungku tersentuh oleh tangan Kiai. Karena itu Kiai tidak perlu mengejar aku. Tetapi bagaimana seandainya aku membuat perhitungan pula, bahwa Kiai tidak akan mengejar dan mencegat aku, lalu aku benar-benar berlari ke arena yang semakin parah bagi Jipang itu?”
“Adi,” berkata Kiai Gringsing. “Sebenarnya apa yang akan kita lakukan itu tidak akan ada gunanya. Seandainya kita membuat permainan sendiri, maka permainan kita tidak akan mempengaruhi pertempuran itu. Betapapun lemahnya satu di antara kita, tetapi kita pasti akan memerlukan waktu. Dan lihatlah kini. Betapa laskar Jipang telah terdesak semakin jauh.”
Dada Sumangkar bergetar mendengar kata-kata Kiai Gringsing itu. Ia dapat mengerti dan ia sependapat pula. Menurut perhitungan, seandainya Kiai Gringsing memiliki ilmu yang tidak terpaut banyak daripadanya, maka waktu yang diperlukan pasti akan lebih banyak dari waktu yang diperlukan oleh pasukan Pajang untuk memecah barisan Macan Kepatihan. Tetapi kadang-kadang perasaan seseorang tidak sejalan dengan pikirannya. Meskipun Sumangkar menyadarinya, namun apakah ia akan duduk diam dan menonton pasukan Jipang terpecah belah tanpa berbuat sesuatu? Dan benarkah bahwa Kiai Gringsing memiliki ilmu yang cukup baik untuk bertahan cukup lama.
Akhirnya Sumangkar tidak lagi ingin membuat perhitungan-perhitungan. Tetapi ia harus berbuat sesuatu. Karena itu maka katanya, “Kiai, aku kagum melihat sikap dan ketenangan Kiai. Tetapi aku tidak akan terpengaruh oleh apapun. Aku tetap dalam pendirianku. Angger Untara harus dilenyapkan supaya prajurit Pajang menjadi kehilangan pegangan, dan bertempur tanpa ikatan.”
“Jangan supaya aku tidak berusaha meniadakan Macan Kepatihan pula.”
“Terserah kepadamu. Aku tetap akan melakukan rencanaku.”
Kiai Gringsing menarik nafas. Setapak ia maju, ia tidak akan membiarkan Sumangkar berlari ke arena, dan langsung membunuh Untara.
Melihat Kiai Gringsing bergerak, Sumangkar tiba-tiba merenggangkan kakinya. Tongkatnya digenggamnya dengan tangan kanannya dan sinar matanya tajam hinggap di wajah Kiai Gringsing.
Kiai Gringsing kini sudah tidak tersenyum lagi. Ia pernah melihat Sumangkar bertempur melawan Tambak Wedi. Tetapi Sumangkar tidak mempergunakan senjatanya yang mengerikan itu. Kini senjata itu berada dalam genggamannya. Karena itu maka nilai orang itu pasti akan berbeda. Sumangkar kali ini pasti akan berada di puncak kemampuannya.
Kedua orang tua itu, Kiai Gringsing dan Sumangkar kini telah berdiri berhadapan. Keduanya adalah orang-orang yang berfikir bening dan berilmu hampir mumpuni. Namun kini mereka terpaksa berdiri dalam kesiagaan yang paling tinggi.
“Adi Sumangkar, apakah kita orang tua-tua inipun terpaksa tidak tahu diri dan saling bertengkar seperti anak-anak?” bertanya Kiai Gringsing.
“Aku tidak ingin itu terjadi Kiai, bukankah aku hanya ingin menyingkirkan Untara dari peperangan itu,” sahut Sumangkar.
“Baiklah. Aku tidak mempunyai pilihan lain. Bukankah sudah aku katakan, bahwa Untara adalah kakak dari murid perguruanku?”
“Terserah kepada Kiai. Aku sudah siap.”
Kiai Gringsing kemudian menarik ujung kainnya dan diselipkan di ikat pinggangnya. Kain itu adalah kain gringsing. Perlahan-lahan ia mengambil sesuatu dari bawah bajunya, melingkar di perutnya.
“Senjata Sumangkar adalah senjata pilihan,” desisnya di dalam hati. “Aku harus berhati-hati.”
Tiba-tiba di tangan Kiai Gringsing itupun tergenggam sebuah cambuk yang pendek namun berjuntai panjang. Itulah senjatanya yang paling berbahaya.
Sumangkar mengerutkan keningnya melihat senjata itu. Ia mencoba mengingat-ingat. Perguruan manakah yang mempunyai ciri khusus sebuah cambuk yang berjuntai panjang, kira-kira satu setengah kali panjang pedang biasa. Tetapi Sumangkar belum berhasil menemukannya. (BERSAMBUNG)
BUKU 12.3
“Hem,” katanya dalam hati, ”orang semacam Kiai Grinsing itu pasti seorang yang berbahaya sekali. Meskipun aku belum melihat geraknya, tetapi agaknya ia lebih berbahaya dari Ki Tambak Wedi.”
Dalam pada itu Kiai Gringsing pun berkata di hatinya, “Alangkah tinggi tekad Sumangkar. Dan alangkah tabah hatinya menghadapi persoalan yang semakin gawat ini. Agaknya ia masih mencoba untuk mengatasi persoalan ini. Persoalan antara dirinya sendiri dan persoalan anak-anak Jipang itu.”
Dan ketika tiba-tiba Sumangkar sorak di medan perang, ia berpaling sekali lagi. Dilihatnya pasukan Jipang terdesak dalam jarak yang cukup panjang. Meskipun kemudian mereka berhenti dan mencoba bertahan lagi, namun Sumangkar semakin menjadi cemas bahwa pasukan itu segera akan pecah sebelum senja.
Tanpa disengajanya, tiba-tiba ia melangkah maju mendekati Kiai Gringsing. “Tak ada pilihan lain,” desisnya.
Kiai Gringsing mengangguk, “Ya tak ada pilihan lain.”
“Apakah Kiai siap?” bertanya Sumangkar sambil menggerakkan ujung tongkatnya yang kuning dan berbentuk tengkorak.
Kiai Gringsing mengangguk. “Aneh” desisnya, “aku bersembunyi karena aku takut Angger Untara membawa aku serta dalam peperangan itu. Tetapi tiba-tiba aku terpaksa menghadapi seorang lawan.”
“Jangan terlalu merendahkan diri Kiai,” sahut Sumangkar, ”marilah, sebelum anak-anak itu selesai bermain-main.”
Kiai Gringsing tidak menjawab. Tetapi ia mempersiapkan dirinya menyambut segala kemungkinan.
Sumangkar pun kemudian maju selangkah. Kini tongkatnya telah bergerak-gerak. Dan ketika ia mendengar sekali lagi sorak yang gemuruh maka tiba-tiba ia meloncat menyerang Kiai Gringsing.
Kiai Gringsing telah bersiap menyambut serangan itu. Selangkah meloncat ke samping dan tiba-tiba ia mengerakkan tangannya. Ujung cambuknya bergetar cepat sekali menyambar lawannya yang melontar di sampingnya.
Sumangkar benar-benar terkejut melihat ujung cambuk yang seakan-akan mengejar untuk mematuk tengkuknya. Cepat ia menghindar sambil merendahkan dirinya. Tetapi sekali lagi ia terkejut, ujung cambuk yang tidak menyentuhnya itu meledak di atas kepalanya seperti ledakan petir di langit.
Sumangkar menggeram. Sekali lagi ia meloncat ke samping untuk mengambil jarak yang cukup. Namun Sumangkar adalah orang yang cukup cekatan mengimbangi gerak Kyai Gringsing. Demikian ia berjejak di atas tanah, demikian ia melontar menyusup ke dalam batas pertahanan lawannya. Tongkatnya terayun deras sekali ke arah kaki Kiai Gringsing.
Kini Kiai Gringsing-lah yang terkejut. Tetapi ia adalah orang yang cukup berpengalaman menghadapi setiap kemungkinan. Dengan lincahnya ia meloncat ke samping dan dengan lincahnya pula ia menggerakkan senjatanya.
Sumangkar yang gagal mengenai lutut Kiai Gringsing cepat-cepat melontar surut menghadapi kejaran ujung cambuk lawannya yang seakan-akan mempunyai biji mata. Hanya karena ketrampilannya maka ia berhasil melepaskan diri dari sengatan-sengatan ujung cambuk itu.
Demikian mereka terbenam dalam pertempuran yang semakin lama semakin sengit. Orang-orang tua itu bertempur dalam jarak yang tidak demikian jauhnya dari garis pertempuran. Sekali-sekali mereka mendengar sirak yang gemuruh dari kedua belah pihak. Pasukan Jipang yang walaupun selalu terdesak mundur namun sekali-sekali mereka masih juga menjumpai kemenangan-kemenangan kecil. Bahkan sekali-sekali mereka juga berhasil maju selangkah dua langkah. Tetapi sesaat kemudian mereka terdesak kembali.
Sorak-sorai yang gemuruh itu seakan-akan adalah sorak-sorai para penonton yang menyoraki kedua orang-orang trua itu. Bagaimanapun juga maka suara-suara itu telah mempengaruhi perasaaan mereka. Seolah-olah para prajurit itu melihat bahwa sekali-sekali Kiai Gringsing terpaksa berloncatan surut namun disaat yang lain Sumangkar terpaksa berguling-guling menghindari ujung cambuk Kiai Gringsing.
Pertempuran di kedua arena itu berlangsung terus meskipun sifatnya sangat berbeda. Di satu lingkaran, mereka bertempur dalam garis perang yang panjang. Benturan antara dua kekuatan yang besar dalam gelar yang sempurna. Masing-masing dipimpin oleh Senapati yang cukup tangguh dan beberapa senapati pengapit.
Sedangkan di arena kecil, tidak begiitu jauh dari garis perang itu, dua orang yang sudah menjelang hari-hari tuanya, bertempur dengan serunya pula. Keduanya mampu bergerak melampaui kecepatan gerak orang kebanyakan. Di antara bayangan yang berloncatan mengeletarlah suara letupan-letupan cambuk Kiai Gringsing dan kilatan cahaya keputih-putihan dari tongkat baja kuning Sumangkar. Sekali-sekali cahaya kekuningan seleret-seleret menyambar seperti pijar bara api.
Kedua arena pertempuran yang berbeda bentuk dan sifat itu semakin lama menjadi semakin seru. Dan matahari pun semakin lama semakin menurun disisi langit sebelah Barat.
Untara yang mempimpin seluruh kekuatan Pajang dan Sangkal Putung melihat bahwa ia akan dapat mengatasi keadaan. Karena itu, semakin besarlah usahanya untuk segera mengakhiri peperangan sebelum korban menjadi semakin lama semakin banyak di kedua belah pihak.
Dengan penuh tanggung jawab ia bertempur melawan Macan Kepatihan sambil sekali-sekali mengawasi setiap sudut pertempuran. Ketika ia yakin bahwa kedudukan sayap-sayapnya pun menjadi bertambah baik, maka seperti angin taufan ia memperkuat serangan-serangannya atas Macan Kepatihan.
Sekali-sekali Macan Kepatihan itu menggeram dan menggertakkan giginya. Semakin lama disadarinya, bahwa pasukannya menjadi semakin kalut. Satu-satu korban berjatuhan dan sekali-kali ia mendengar pekik dan keluh kesah, bahkan sekali sebuah jeritan melengking menyayat hatinya yang parah.
Widura pun melihat keadaan itu. Kesempatan ini tidak boleh lampau. Ia tidak boleh menunggu anak-anak muda Sangkal Putung yang dating kemudian menjadi kelelahan dan dengan demikian kekuatan seluruh pasukannya menjadi surut kembali. Karena itu, maka ia pun segera memperketat tekanan atas sayap lawan. Pedangnya yang berat terayun-ayun seperti baling-baling. Lawannya, Alap-alap Jalatunda yang bertempur bertiga melawannya dengan gigih. Tetapi Widura adalah seorang Senapati yang berpengalaman menghadapi setiap keadaan medan, sehingga dengan mudahnya ia berhasil mempersempit kesempatan lawannya.
Di sayap yang lain, Agung Sedayu gigih melawan Sanakeling. Dalam pertempuran itu Sanakeling terpaksa mengakui, anak yang masih sangat muda, adik Untara itu tidak dapat diabaikannya. Bahkan beberapa kali ia mengalami kesulitan dengan unsur-unsur gerak yang aneh dan hampir tak dapat dimengertinya. Untunglah bahwa Sanakeling adalah prajurit sejak mudanya. Karena itu, maka dengan bekal kemampuan dan pengalamannya ia masih tetap bertahan mengimbangi kecepatan bergerak Agung Sedayu. Namun Agung Sedayu benar-benar telah lupa akan kewajibannya yang lain. Ia merasa bahwa ia berada dalam keadaan sendiri, lepas dari kewajiban-kewajiban lainnya. Untunglah Hudaya masih tetap berada disampingnya meskipun kian lama ia menjadi semakin pucat dan lemah. Darah masih saja mengalir dari lukanya meskipun tidak begitu deras. Meskipun demikian ia tidak dapat meninggalkan arena, karena ia pun menyadari sepenuhnya, bahwa Agung Sedayu adalah seorang anak muda yang mampu bertempur dengan baik, tetapi ia belum seorang Senapati yang baik, yang melihat pertempuran dalam keseluruhan.
Demikian tegalan kering itu telah menjadi kancah pertempuran yang dasyat.Tanah yang telah menjadi merah berlumuran darah, menghamburkan debunya menjulang tinggi ke langit. Matahari menjadi suram karenanya, sesuram wajah anak gadis yang ditinggalkan kekasihnya ke medan pertempuran.
Kilatan cahaya yang terpantul di ujung-ujung senjata masih gemerlapan. Panji-panji, rontek dan umbul-umbul masih tegak di kedua pihak meskipun tidak lagi semegah semula. Namun angin yang semakin kencang telah menyentuh-nyentuhnya dan melambaikan daun-daun rontek dan umbul-umbul. Panji-panji yang megah berkibaran seperti tangan yang menggelepar menyentak-nyentak, seolah-olah tangan seorang senapati sedang memberi aba-aba.
Agak jauh dari mereka, Sumangkar masih bertempur melawan Kiai Gringsing dengan gigihnya. Kedua orang tua yang telah kenyang makan pahit manis perkelahian itu, bertempur dengan cara mereka sendiri.
Tetapi bagaimanapun juga, mereka tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh peperangan yang berlangsung di sebelah. Sorak-sorai yang gemuruh dan gerakan-gerakan surut dari salah satu pihak dari antara mereka.
Sejenak kemudian, tiba-tiba Sumangkar melontar mundur beberapa langkah sambil berdesis, ”Tunggu Kiai. Aku ingin melepaskan diri sebentar.”
Kiai Gringsing mendengar desis itu. Ia adalah seorang yang dapat menghadapi lawan dengan hati lapang. Ia tidak mau berbuat curang selagi lawan dalam keadaan yang tidak wajar, karena itu demikian ia mendengar desis Sumangkar itu, ia pun segera menghentikan serangannya. Dan bahkan terdengar ia bertanya, “Apa yang mengganggumu Adi?”
Sumangkar tidak menjawab. Namun ia tahu pasti bahwa Kiai Gringsing akan menghargai nilai-nilai kejantanannya, sehingga ia tidak akan menyerangnya selagi ia tidak bersiaga.
Kini ia berdiri tegak bagaikan patung batu. Nafasnya yang tersengal-sengal satu-satu, meluncur lewat lubang-lubang hidungnya. Ia mengakui kini bahwa Kiai Gringsing adalah seorang yang luar biasa. Seorang yang tidak kalah nilainya dari Ki Tambak Wedi yang merasa dirinya tidak terlawan. Namun ternyata orang yang tidak dikenal ini sama sekali tidak berada di bawah tingkat ilmu Ki Tambak Wedi. Bahkan diam-diam ia mengakui, bahwa ia pasti tidak akan dapat mengalahkannya.
Tetapi bukan itulah yang mendebarkan jantungnya. Bahkan di luar sadarnya ia berkata, “Lihatlah Kiai, pasukan Jipang terdorong jauh ke belakang.”
“Ia,” jawab Kiai Gringsing singkat.
Namun dengan serta merta terloncatlah dari mulut Sumangkar yang gelisah, “Umbul-umbul itu kini sudah tidak tegak lagi.”
Kiai Gringsing tidak menjawab. Tetapi ia melihat apa yang dikatakan oleh Sumangkar. Pasukan Jipang terdorong jauh. Namun tiba-tiba garis perang itu terhenti bergeser. Kiai Gringsing dan Sumangkar melihat apa yang terjadi. Macan Kepatihan sedang berusaha mempersempit gelarnya.
“Bukan main,” guman Kiai Gringsing.
Sumangkar berpaling, “Apa yang bukan main Kiai”
“Murid kakak seperguruanmu,” jawab Kiai Gringsing, “Ia berhasil menemukan cara untuk mengurangi tekanan lawannya.”
Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tohpati telah berusaha memperpendek garis perangnya.
Dengan kekuatan yang lebih baik, seorang-seorang, ia mengharap dapat mengurangi kekalahan-kekalahan yang selama ini dideritanya. Macan Kepatihan mengharap, bahwa dalam keadaan yang demikian, anak-anak muda Sangkal Putung tidak akan mendapat kesempatan yang baik. Bahkan ketika pertempuran itu baru mulai, mereka menjadi kebingungan untuk mengambil tempat.
Tetapi Widura di sayap kiri bukan orang yang mudah dikelabuhi. Ketika ia melihat gelar lawannya menyempit, segera ia menebarkan ujung sayapnya, mencoba melingkar dan mencapai garis serangan dari belakang gelar lawannya. Tetapi Alap-alap Jalatunda tidak membiarkannya, sehingga terpaksa ujung pasukannyapun menebar pula mencegah pasukan Widura yang ingin memotong garis di belakang gelar.
Tohpati menggeram melihat cara Widura melawan gelarnya. Tetapi ia tidak dapat mencegahnya. Bahkan ia pun akan mengambil sikap serupa seperti apa yang dilakukan oleh Alap-alap Jalatunda apabila ia menghadapi keadaan yang serupa.
Tetapi Tohpati tidak juga dapat bertahan lebih lama lagi. Ketika matahari menjadi semakin rendah, pasukannya telah benar-benar terdesak jauh ke belakang. Ketengah-tengah padang rumput yang terbentang di sisi hutan tempat persembunyian Macan Kepatihan.
Sekali-sekali Macan Kepatihan masih mencoba meneriakkan aba-aba. Namun gunanya hampir tidak ada sama sekali. Pasukannya telah benar-benar menjadi payah dan kehilangan kesempatan. Betapa Sanakeling mencoba menekan lawannya, namun Agung Sedayu mampu mengimbanginya dengan baik. Bahkan sekali-sekali terdengar Sanakeling mengumpat dengan kata-kata yang kotor.
Kini Macan Kepatihan sudah tidak dapat berbuat lebih banyak lagi. Hatinya menyala seperti nyala matahari di langit. Tetapi banyak hal yang telah mengganggunya selama ini. Ketika ia berkesempatan menebarkan pandangan matanya sesaat kepada pasukannya maka hatinya berdesir. Pasukannya benar-benar telah menjadi payah. Kalau Untara berhasil memecah pasukannya itu segera sebelum gelap dan masih jauh dari hutan itu maka pasukannya kali ini akan benar-benar hancur. Kesempatan untuk mengundurkan diri dengan selamat, sangat kecil. Pasukannya pasti akan diremuk lumatkan saat mereka mencoba mengundurkan dirinya. Korban pasti akan bertimbun-timbun dan untuk seterusnya akan sulit baginya untuk menyusun kekuatan kembali.
Karena itu, maka ia harus berjuang sekuat-kuat tenaga untuk bertahan sampai matahari terbenam atau mundur dalam gelar yang teratur sampai ke tepi hutan itu.
Tetapi Untara bukan tidak dapat menebak maksud itu. Ia tahu benar bahwa Macan Kepatihan sedang berusaha mencari kesempatan yang sebaik-baiknya untuk menyelamatkan pasukannya. Karena itulah justru beberapa kali terdengar ia meneriakkan aba-aba, aba-aba yang sebenarnya hanya merupakan cara-cara yang dapat mempengaruhi daya dan gairah bagi prajurit-prajuritnya.
Sumangkar yang melihat peperangan itu menjadi semakin tegang. Ia melihat umbul-umbul dan rontek, bahkan panji-panji Jipang kadang-kadang telah tidak tegak lagi. Sekali-sekali ia melihat umbul-umbul itu condong bahkan hampir roboh didorong oleh geseran garis perang. Sekali-sekali ia melihat sebuah rontek dari antara sekian banyak rontek, terseret jauh di belakang pasukan Jipang yang sedang bertahan mati-matian. Bahkan semakin lama, Sumangkar tidak dapat melihat umbul-umbul dan rontek, serta panji-panji Jipang masih berada di tempat yang seharusnya bagi sebuah gelar Dirada Meta.
(Bersambung)
BUKU 12.4
Sementara itu peperangan menjadi semakin riuh. Hati Macan Kepatihan menjadi semakin cemas, matahari baginya berjalan terlampau lambat. Bahkan seakan-akan telah berhenti di langit. Sedang korban di pihaknya, satu-satu berjatuhan tak henti-hentinya. Di sayap kirinya, betapapun Sanakeling berusaha, namun Agung Sedayu mampu mengimbanginya.
Kini yang ditempuh oleh Macan Kepatihan adalah cara yang kedua. Perlahan-lahan pasukannya bergeser surut terus-menerus. Mereka mencoba mendekati hutan yang sudah menjadi semakin dekat. Pasukan itu harus mundur dalam gelar yang teratur apabila mereka masih ingin sebagian besar dapat menyelamatkan diri. Meskipun dengan demikian, korban akan tetap berjatuhan.
Tetapi Untara tidak dapat membiarkannya. Segera ia memberi pertanda kepada beberapa orang penghubungnya. Dan naiklah panji-panji pimpinan di belakangnya dengan gerak-gerak yang khusus diulang-ulang. Gerak dari panji-panji itu adalah perintah, gelar dari pasukan Pajang dan Sangkal Putung harus segera berubah. Gelar Sapit Urang.
Tampaklah beberapa perubahan di dalam gelar Pajang. Macan Kepatihan yang melihat perubahan itu, mencoba mempergunakan kesempatan. Dengan kemarahan yang menyala-nyala ia menyerang langsung ke induk pasukan berserta beberapa orang pengiringnya. Namun induk pasukan itu telah siap menerimanya, sehingga usahanya itu sama sekali tidak berarti.
Dengan kemarahan yang seakan-akan meledakkan dadanya ia melihat Widura merubah sikap sayapnya menjadi sebuah sapit raksasa, yang siap memotong usaha Dirada Meta itu mengundurkan dirinya. Meskipun Agung Sedayu tidak cepat mengatur sayapnya, namun Hudaya telah membantunya. Meskipun dalam saat perubahan itu terjadi, sayap kanan terpaksa surut beberapa langkah. Sehingga gelar Untara menjadi agak condong. Namun sesaat kemudian sapit kanan itupun segera dapat mengimbangi sapit yang lain, melingkar dalam usaha pencegahan pasukan Jipang tenggelam ke dalam hutan.
Darah Macan Kepatihan seakan telah mendidih melihat sikap gelar pasukan Untara. Terdengar ia menggeram keras sekali. Tetapi ia tidak dapat hanya sekedar marah-marah saja. Ia harus cepat mengambil tindakan untuk menyelamatkan orang-orangnja.
Macan Kepatihan sesaat menjadi bimbang. Namun tiba-tiba melonjaklah di dalam benaknya, beberapa persoalan yang beberapa saat yang lampau mempengaruhi perasaannya. Pertemuannya dengan orang tua di pinggir sungai. Beberapa persoalan tentang orang-orangnya sendiri, kejemuan, dan berpuluh-puluh macam persoalan lagi. Apakah ia masih harus melihat pertentangan yang terjadi itu berkepanjangan tanpa ujung dan pangkal? Apakah ia masih harus melihat bencana menimpa rakyat Demak yang sedang dilanda oleh perpecahan yang semakin dahsyat? Pembunuhan-pembunuhan liar, perampokan, pemerasan, perkosaan terhadap peradaban.
Dan yang terakhir terngiang kembali adalah kata-katanya sendiri, “ Kali ini adalah kali yang terakhir.”
Gigi Macan Kepatihan gemeretak. Tetapi ia telah menemukan keputusan di dalam dirinya. Pertempuran ini harus merupakan pertempuran yang terakhir bagi pasukannya. Kalau umbul-umbul, rontek, dan panji-panji Jipang itu akan roboh di arena ini, biarlah umbul-umbul, rontek, dan pandji-panji itu tidak akan bangkit kembali. Yang tidak akan muncul lagi dalam percaturan sejarah kerajaan Demak. Kalau pasukannya mau hancur, hancurlah sekarang. Persoalan akan segera selesai. Kejemuan dan ketidak-pastian bagi sisa anak buahnya akan hilang.
Tatapi apakah ia harus mengorbankan orang-orangnya? Orang-orang yang di antaranya sama sekali tidak ikut bertanggung jawab atas pertentangan antara Jipang dan Pajang? Orang-orang yang hanya terseret oleh arus permusuhan tanpa tahu sebab-sebabnya? Bahkan orang-orang yang sama sekali tidak mengenal siapakah Arya Penangsang, dan siapakah Adipati Adiwijaya yang juga bernama Jaka Tingkir di masa kecilnya?
Semua itu bergolak di dalam kepala Tohpati justru pada saat-saat yang sangat berbahaya. Pada saat-saat sapit-sapit raksasa dari gelar Sapit Urang itu bergerak melingkar untuk mencoba mengurungnya dalam lingkaran maut.
Dalam keadaan yang cukup baik, Macan Kepatihan dapat segera merubah gelarnya dalam bentuk yang lain, yang sanggup menghadapi lawan dari setiap arah, dan sanggup mematahkan kepungan di setiap sisi. Gelar Cakra Byuha. Gelar sebuah lingkaran bergerigi. Namun dalam keadaan yang telah payah benar itu, Macan Kepatihan tidak melihat manfaatnya. Bahaya setiap usaha merubah gelar akan memberi peluang bagi lawannya di saat-saat perubahan itu terjadi. Tetapi Macan Kepatihan, seorang Senopati Jipang yang terpercaya itupun tidak akan dapat mengorbankan orang-orangnya.
Sumangkar melihat pertempuran itu dengan dada yang berdebar-debar. Setiap kali ia melihat sebuah umbul-umbul roboh, setiap kali terasa segores luka membekas di dalam hatinya.
Ialah yang pernah menyelamatkan umbul-umbul, rontek dan panji-panji Jipang dari kepatihan ketika Jipang dipukul hancur oleh pasukan Pajang dibawah pimpinan Ki Gade Pemanahan. Kini ia menyaksikan satu demi satu umbul-umbul, rontek dan panji-panji itu roboh. Karena itulah maka jantungnya serasa dibelah dengan sembilu. Namun ia kini tidak dapat menghindari kenyataan. Di sampingnya berdiri seorang yang tidak dikenal sebelumnya, namun orang itu pasti akan dapat mencegahnya, apa saja yang akan dilakukan.
Ketika sekali lagi ia melibat sebuah umbul-umbul roboh maka tanpa sesadarnya ia berdesis, “Harapan itu kini telah tenggelam sama sekali seperti tenggelamnya umbul-umbul dan rontek itu di dalam arus peperangan.”
Kiai Gringsing yang mendengar desis itu maju selangkah. Kesan permusuhan pada wajah kedua orang itu kini sama sekali tidak berbekas. Bahkan dengan nada yang serupa Kiai Gringsing berkata, “Ya. Pasukan Jipang itu tidak akan dapat ditolong lagi.”
Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Angger Macan Kepatihan kali ini mengambil tindakan yang akibatnya dapat berbahaya sekali, seperti apa yang ternyata sedang terjadi kini.”
“Ya,” sahut Kiai Gringsing.
Sesaat keduanya terdiam. Namun wajah-wajah mereka kini menjadi tegang. Mereka sedang menyaksikan saat-aat terakhir dari peperangan itu. Sumangkar hatinya dicengkam oleh kecemasan, kepedihan dan kepahitan yang tiada taranya. Sedang Kiai Gringsing sedang mencemaskan sikap para prajurit Padjang. Apakah mereka cukup berjiwa besar menghadapi kehancuran lawannya? Apakah mereka tidak akan kehilangan diri mereka sebagai manusia yang mengagungkan kemanusiaan sebagai ungkapan bakti mereka kepada Sumber Hidup mereka ?
Sebenarnyalah saat itu Macan Kepatihan telah melakukan tindakan terakhir untuk menyelamatkan orang-orangnya. Dengan lantang ia berteriak, memerintahkan segenap pasukannya menarik diri ke dalam hutan yang sudah tidak terlampau jauh. Mereka diberi kesempatan selagi sapit raksasa lawan itu belum selesai dalam usaha mereka mengepung pasukan yang sedang payah.
Sanakeling menggeram melihat isyarat itu. Tetapi ia tidak mampu berbuat apapun juga. Iapun harus meyakini, bahwa kali ini mereka tidak akan berhasil mengalahkan laskar Sangkal Putung yang bertempur bersama-sama dengan para prajurit Pajang. Karena itu maka perlahan-lahan ia membuat gerakan-gerakan untuk mempersiapkan pengunduran pasukannya dengan hati-hati dan penuh bahaya. Sebab apabila gerakan mundur ini gagal pula, maka akan tumpaslah segenap anak buahnya.
Tetapi Sanakeling itu terkejut ketika ia melihat Tohpati dengan tongkat baja putihnya ia mengamuk sejadi-jadinya. Seperti orang yang kehilangan kesadaran, Macan Kepatihan bertempur dengan gigihnya. Bahkan ia sama sekali tidak berkisar dari tempatnya meskipun laskarnya telah surut beberapa langkah.
“Raden Tohpati,” teriak Sanakeling yang mencemaskan.
“Cepat mundur!” teriak Tohpati tidak kalah kerasnya.

Sanakeling tidak tahu maksud Macan Kepatihan yang sama sekali tidak ada tanda-tanda untuk menarik dirinya mengikuti laskarnya.
“Cepat!” teriak Macan Kepatihan itu kemudian. “Kalau kau terlambat, maka kaulah yang akan aku penggal lehermu.”
Sanakeling menggigit bibirnya. Kedua senjatanya masih bergerak dengan cepatnya, melindungi dirinya. Berkali-kali ia meloncat menyelamatkan diri dari terkaman Agung Sedayu yang menjadi semakin garang, sehingga sekali-sekali Sanakeling mengeluh di dalam hati, “Gila adik Untara ini.”
Namun perintah Macan Kepatihan yang terakhir benar-benar mengejutkannya. Bahkan Untara pun terkejut pula mendengar perintah Macan Kepatihan yang keras bagi anak buahnya.
Tetapi Sanakeling tidak berani melawan perintah itu. Perlahan-lahan ia menarik dirinya di antara pasukannya mengundurkan diri ke tepi padang yang berbatasan dengan hutan.
“Licik,” geram Untara. Namun ia tidak yakin akan perkataannya sendiri. Apa yang dilakukan oleh Macan Kepatihan adalah suatu sikap wajar yang mencerminkan kematangannya dalam olah peperangan. Apabila terasa bahwa pasukannya tidak mungkin bertahan lebih lama lagi, maka pasti dicari jalan untuk menyelamatkan diri.
Untara segera mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh Macan Kepatihan itu. Karena itu maka segera jatuhlah printahnya, untuk memecah pasukan lawan sebelum berhasil menyembunyikan diri di balik pepohonan dan lenyap ke dalam hutan.
Pasukan Pajang pun serentak mendesak maju. Mereka mencoba untuk mengurungkan usaha Macan Kepatihan dengan menggagalkan gerak mundur yang teratur itu.
Betapa beratnya usaha yang dilakukan oleh Macan Kepatihan dan senapati-senapati bawahannya. Tekanan prajurit Pajang semakin terasa menekan hampir tak tertahankan. Hanya kesadaran mereka, bahwa apabila gelar mereka terpecah sebelum mereka mencapai hutan, berarti kehancuran mutlak, itulah yang masih tetap mengikat mereka dalam satu kesatuan.
Macan Kepatihan melihat, tekanan yang semakin lama semakin menjadi pepat. Itulah sebabnya, maka tiba-tiba ia melontar jauh ke samping dan segera melepaskan Untara dari lingkaran perkelahian. Dengan garangnya ia berloncatan melindungi pasukannya yang masih mencoba mencapai jarak yang semakin dekat.
“Gila,” geram Untara. Dengan satu ayunan tongkat, ia melihat dua prajuritnya jatuh terkapar di tanah. Karena itu alangkah marahnya Senapati Pajang itu, dengan serta merta ia meloncat mengejar Macan Kepatihan. Tetapi Macan Kepatihan selalu berusaha menjauhinya. Di antara prajurit Pajang ia berloncatan sambil memutar senjatanya untuk menahan arus pasukan Pajang yang menjadi semakin deras. Setiap kali ia meluncur seperti tatit mencari tempat baru untuk melepaskan kemarahannya dan menahan arus lawan.
Sekali lagi Untara menggeram. Dengan marahnya ia mendesak terus mengejar Macan Kepatihan. Namun Macan Kepatihan selalu berloncatan kian kemari.
Sanakeling yang melihat Macan Kepatihan segera menyadari, bahwa Macan Kepatihan dengan caranya berusaha mencoba menghambat gerak maju pasukan Pajang. Perkelahian di dalam lingkungan prajurit-prajurit Pajang melawan Tohpati yang berkeliaran itu berpengaruh juga atas gerak maju pasukan Pajang. Sebab mereka selalu saja memperhatikan, jangan-jangan tongkat Tohpati itu tiba-tiba hinggap di punggung mereka, atau kepala mereka terpecahkan oleh tongkat baja putih yang mengerikan itu.
Tetapi Sanakeling tidak dapat berbuat lain daripada membawa pasukannya mengundurkan diri. Meskipun demikian, ia melihat beberapa orang yang terlalu setia kepada Macan Kepatihan, membatalkan niatnya untuk beringsut mundur. Bahkan seperti Macan Kapatihan mereka menceburkan diri mereka ke tengah-tengah pasukan lawan, seperti serangga yang menyeburkan diri mereka ke dalam api. Namun usaha Macan Kepatihan dan beberapa orang yang setia kepadanya itu berguna pula. Meskipun satu demi satu orang-orang itu tergilas oleh arus kemarahan para prajurit Pajang dan Sangkal Putung, namun gerak itu mendapat kesempatan lebih banyak dari semula.
(Bersambung)
BUKU 12.5
Widura pun kemudian melihat cara yang ditempuh oleh Macan Kepatihan itu. Karena itu, maka segera ia harus ikut serta mengatasinya. Maka dihentikannya usahanya untuk mengejar Alap-alap Jalatunda. Usaha itu diserahkannya kepada anak buahnya. Bagaimanapun juga, Alap-alap Jalatunda sedang berusaha seperti Sanakeling membawa orang-orangnya bergeser mundur, sehingga Alap-alap itu hampir-hampir sama sekali tidak berbahaya.
Dengan tangkasnya Widura pun mencoba menyusup di antara prajurit Pajang sendiri. Ia melihat Macan Kepatihan semakin lama semakin dekat ke sayapnya, sebab Untara selalu berusaha mengejarnya. Dengan penuh tanggung jawab, tiba-tiba Widura, berhasil berdiri berhadapan dengan Senapati Jipang itu.
“Setan tua,” teriak Tohpati, “kau mencoba mengganggu aku, Paman Widura? “
Widura tidak menjawab, tetapi pedangnya terjulur lurus ke arah dada Macan Kepatihan. Namun Macan Kepatihan itu dengan garangnya menggeram dan menghindar, melepaskan diri dari tusukan pedang itu, sekaligus dengan melontarkan serangan balasan. Tongkatnya terayun dengan derasnya ke arah pelipis Widura. Namun Widura pun segera berhasil menghindarkan dirinya. Cepat ia beringsut ke samping dan meloncat kembali dalam satu putaran menyambar lambung lawannya. Tetapi Tohpati tiba-tiba meloncat jauh-jauh dan sesaat kemudian ia telah tenggelam dalam hiruk pikuk pasukan Pajang. Sekali-sekali tampak tongkatnya terayun-ayun, dan bertebarlah para prajurit Pajang menjauhkan diri dari padanya. Widura melihat peristiwa itu dengan darah yang mendidih. Ketika ia meloncat maju, dilihatnya Untara pun telah sampai pula di samping Macan Kepatihan itu.
Dada Macan Kepatihan berdesir ketika ia melihat dua orang Senapati Pajang itu bersama-sama datang kepadanya. Sesaat ia diam mematung sambil berpikir. Namun tiba-tiba ia meloncat dengan cepatnya menyusup masuk ke dalam lingkungan prajurit-prajurit Pajang sambil mengayunkan tongkat kian kemari. Dengan loncatan-loncatan yang panjang ia berusaha meninggalkan Widura dan Untara. Namun sama sekali tak dikehendakinya untuk ikut serta mundur bersama-sama dengan pasukannya. Sebab dengan demikian, apabila ia ikut serta menarik diri, pasukan Pajang akan mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk memecah pasukannya yang telah menjadi semakin parah. Widura dan Untara, ketika melihat Tohpati mencoba menghilang di antara pasukannya, segera mengejarnya. Tetapi Untara dan Widura tidak dapat berbuat seperti Tohpati. Melanggar siapa saja yang berada di hadapannya. Menerjang dan bahkan menginjak tubuh yang terdorong jatuh. Untara dan Widura harus mencari jalan di antara mereka. Kadang-kadang menunggu seseorang menyibak, dan kadang-kadang harus mendorong seseorang ke samping, tetapi tidak sekasar Tohpati. Untara dan Widura tidak dapat mencari jalan dengan memutar pedangnya di antara laskarnya sendiri. Dan laskarnyapun tidak akan berdesak-desakan menyisih seperti apabila mereka melihat Tohpati dengan beberapa orang yang paling setia kepadanya lewat di antara mereka. Meskipun para prajurit Pajang bukanlah prajurit-prajurit pengecut, namun mereka pasti masih harus mempunyai berbagai pertimbangan untuk langsung berhadapan dengan Macan Kepatihan beserta tongkat baja putihnya.
Karena itulah, maka Untara dan Widura tidak dapat cepat menyusul Tohpati. Meskipun demikian Tohpati itu tidak terlepas dari pengamatan mereka. Kemana Tohpati itu pergi, maka Untara dan Widura selalu berada di belakangnya. Dengan demikian Tohpati pun tidak mempunyai keleluasaan untuk bertempur di satu titik. Setiap kali ia harus melontar pergi meninggalkan seorang atau dua orang korban luka, atau bahkan ada pula yang tak mampu bertahan karena hantaman tongkat baja putih itu.
Tetapi para prajurit Pajang bukannya dengan sukarela menyerahkan diri mereka. Dengan gigih mereka memberikan perlawanan apabila mereka sudah tidak mungkin lagi untuk menghindar. Dengan demikian, maka setiap kali mereka melihat seseorang di antara mereka jatuh di tanah, apakah ia terluka apakah ia gugur dalam peperangan itu, namun setiap kali pula ujung-ujung pedang tergores pada tubuh Senapati Jipang yang perkasa itu. Dengan demikian, maka baju dan bahkan segenap pakaian Tohpati itu telah dibasahi bukan saja oleh keringat yang mengalir semakin deras, namun percikan-percikan darah telah menodainya di sana-sini. Goresan-goresan yang bahkan ada yang cukup dalam dan panjang telah membekas di tubuh itu, seperti guratan-guratan pada tubuh seekor harimau dalam rampogan di alun-alun. Seekor macan jantan yang garang, yang dilepaskan di alun-alun di antara prajurit bertombak dalam hari-hari besar yang khusus.
Demikian itulah keadaan Macan Kepatihan yang tidak kalah garangnya dengan harimau jantan yang betapapun besarnya.
Di sayap kanan, Agung Sedayu yang mencoba memberikan tekanan yang semakin berat kepada Sanakeling selalu berusaha untuk tidak memberi kesempatan kepada senapati Jipang itu mengatur anak buahnya menarik diri dari peperangan. Apalagi dibantu oleh Hudaya yang lebih cakap daripadanya mengatur pasukannya. Namun ternyata Sanakeling masih mampu juga, perlahan-lahan menarik seluruh pasukannya dengan teratur, meskipun beberapa kali mereka mengalami kesulitan. Satu-satu anak buahnya berjatuhan. Namun baginya tidak ada cara lain yang lebih baik. Cara itu adalah cara yang paling sedikit menyerahkan korban-korban di antara anak buahnya.
Agung Sedayu yang sedang dengan gigih bertempur melawan Sanakeling yang bertempur dengan olah-playu di dalam suasana yang paling mungkin dilakukan itu, tiba-tiba terkejut, ketika terjadi hiruk pikuk di belakangnya. Ketika ia berpaling, dilihatnya kilatan-kilatan tongkat baja putih di antara ujung senjata anak buahnya. Dalam cahaja matahari yang semakin rendah tongkat itu memantulkan sinarnya yang sudah menjadi kemerah-merahan.
Dada Agung sedayu berdesir. Ketika sekali lagi Sanakeling menarik diri jauh-jauh dari padanya, ia tidak mengejarnya. Bahkan kemudian ia terpaksa memperhatikan apakah yang terjadi dalam hiruk-pikuk itu.
Agung Sedayu melihat beberapa orang terpaksa menyibak. Hudaya yang terluka itupun terpaksa menjauh dari ayunan tongkat baja putih itu. Ia sama sekali tidak sekedar menyelamatkan nyawanya, tetapi dengan penuh kesadaran dan perhitungan, beberapa orang telah berusaha secara bersama-sama mengepung Macan Kepatihan yang sedang mengamuk.
“Hem,” desis Agung Sedayu. “Macan yang garang itu sampai di sayap ini pula.”
Sekali ia berpaling kepada Sanakeling. Betapa ia mengumpat di dalam hatinya. Sanakeling telah menjadi semakin jauh. Tanpa Agung Sedayu usahanya menjadi bertambah lancar. Berangsur-angsur ia membawa anak buahnya semakin jauh mendekati hutan yang berada tidak jauh lagi dari mereka.
Tetapi Agung sedayu tidak dapat membiarkan Macan Kepatihan merusak orang-orangnya di belakang garis peperangan. Karena itu, dengan serta merta ia meloncat surut dan langsung masuk ke dalam lingkaran pertempuran itu.
Macan Kepatihan melihat Senapati di sayap kanan itu. Dengan serta merta ia menyerangnya. Namun Agung sedayu berhasil menghindarinya. Bahkan dengan kelincahannya ia segera menyerangnya kembali.
Macan Kepatihan heran melihat kelincahan lawannya. Anak yang masih sangat muda ini. Tetapi hatinya yang telah menjadi semakin gelap telah mendorongnya untuk bertempur semakin garang.
Dalam pada itu, Untara dan Widura pun telah menjadi semakin dekat dengan lingkaran pertempuran antara Agung sedayu dan Macan Kepatihan yang lukanya telah menjadi arang kranjang.
Ketika mereka melihat, bahwa Agung Sedayu telah terlihat dalam pertempuran melawan Tohpati yang mengamuk itu, maka keduanya tertegun. Sesaat mereka berdua melihat, betapa Agung Sedayu mampu melawan Macan yang garang itu. Mereka melihat bahwa kelincahan dan ketangkasan anak muda itu benar-benar membanggakan. Namun dalam siasat dan tangguh, ternyata bahwa pengalaman Macan Kepatihan berlipat-lipat berada di atas Agung Sedayu.
Untara dan Widura tidak terlalu lama membiarkan Agung Sedayu bertempur sendiri melawan Tohpati, Mereka menyadari bahwa setiap gerak Macan Kepatihan mempunyai kemungkinan yang membahayakan jiwa Agung sedayu. Karena itu maka segera mereka berdua berloncatan maju.
Demikian Tohpati melihat Untara dan Widura, maka segera ia melepaskan lawannya yang masih muda itu. Dengan cepatnya ia mencoba menyusup kembali ke tengah-tengah lawan. Ketika sebuah goresan yanq panjang menyilang di lambungnia. Macan Kepatihan sama sekali tidak menghiraukannya. Ternyata pedang Agung Sedayu masih sempat menyentuhnya, pada saat Tohpati berusaha menghindari Untara dan Widura. dan menambah segores lagi luka pada tubuh Senapati Jipang yang perkasa itu. Darah yang merah segera mengalir dari luka itu seperti darah yang mengalir dari luka-luka yang lain. Namun luka ini agaknya lebih dalam dari luka-luka yang telah lebih dahulu menghiasi tubuh Tohpati.
Untara dan Widura melihat usaha menghindar itu. cepat mereka berusaha memotong arah. Tetapi mereka terkejut, ketika mereka tiba, sebuah pedang yang besar, dengan derasnya menyambar tubuh Macan Kepatihan itu.
Macan Kepatihan pun terkejut. Tak ada waktu baginya untuk menghindar. Karena itu, maka segera dilawannya pedang itu dengan tongkatnya.
Terjadilah sebuah benturan yang dahsyat. Seolah-olah bunga api memercik ke udara dari titik benturan itu.
Pedang yang berat jtu terpantul. Terasa tangan yang menggerakkannya bergetar. Seakan-akan perasaan pedih menjalar dari tajam pedangnya menyengat tangannya. Tetapi pedang itu tidak terlepas dari tangan seperti beberapa saat yang lampau. Pedang itu masih tetap dalam genggaman dan bahkan sesaat kemudian pedang itu telah terayun-ayun kembali.
Sekali lagi Tohpati terkejut. Setelah ia meninggalkan Agung sedayu ditemuinya pula seorang anak muda yang mengherankan baginya. Seorang anak muda yang memiliki kekuatan raksasa. Ternyata dalam benturan itu tangan Tohpatipun bergetar meskipun tongkatnya tidak terpantul seperti pedang yang menghantamnya. Anak muda itu adalah seorang anak muda yang gemuk bulat. Ketika Tohpati menatap wajah anak muda itu, tampaklah sekilas wajah itu menyeringai menahan pedih, namun sesaat kemudiam wajah itu telah tersenyum.
“He kelinci bulat,” teriak Tohpati, “kau ingin membunuh dirimu?”
Sambil tersenyum anak muda itu, yang tidak lain adalah Swandaru Geni menjawab, “Jumlah lukamu seperti bintang yang melekat di langit. Tanpa dapat dihitung lagi. Apakah kau masih akan bertempur terus.”
Macan Kepatihan tidak menjawab. Tongkatnya dengan kerasnya terayun ke kepala Swandaru. Swandaru yang telah dapat mengukur kekuatan Macan Kepatihan segera menghindar. Ia tidak berani melawan pukulan tongkat itu dengan pedangnya. Demikian tongkat itu meluncur beberapa jari saja dari kepalanya, pedangnya segera terjulur lurus-lurus ke lambung lawannya. Tohpati yang tidak dapat mengenai lawannya melihat pedang itu cepat ia meloncat surut. Namun kembali ia terkejut, Agung Sedayu telah berada di sampingnya sambil menggerakkan pedangnya pula.
Cepat Macan Kepatihan melontarkan diri jauh-jauh. Ia berusaha menghindari setiap senapati Pajang. la hanya ingin menahan arus desakan pasukan lawannya atas pasukannya yang sedang mundur. Namun tak teraba apa yang tersembunji di dalam hatinya. Berkali-kali terngiang di dalam dadanya, “Serangan ini akan merupakan serangan terakhir bagiku.”
Tohpati itupun kemudian mengayun-ayun tongkatnya sambil berloncatan di antara para prajurit Pajang. Kekacauan yang ditimbulkannya memang berpengaruh atas tekanan-tekanan pasukan Pajang. Sekali-sekali mereka terganggu pula karena hiruk pikuk yang ditimbulkan oleh amuk Tohpati.
Sanakeling yang melihat betapa senapatinya telah terluka arang kranjang menjadi berdebar-debar. Betapapun juga, terasa luka itu seperti luka pada tubuhnya sendiri. Karena itu, maka ia berteriak, “Raden, mundurlah. Kami akan melindungi.”
“Gila kau Sanakeling,” teriak Tohpati yang bertempur tidak demikian jauh dari Sanakeling yang sedang menyelamatkan anak buahnya. “Kalau kau gagal, kepalamu menjadi taruhan. Bukan kau yang melindungi kalian. Selamatkan orang-orangmu. Jangan keras kepala.”
Sanakeling tidak menjawab. Tetapi ia berdesah hati. Apalagi ketika dilihatnya Macan Kepatihan kemudian menjadi semakin lemah. Meskipun demikian, tandangnya justru menjadi semakin garang.
Laskar Jipang itu semakin lama menjadi semakin dekat dengan batas hutan. Di sana-sini telah bertebaran gerumbul-gerumbul liar. Ternyata keadaan medan telah memberikan sedikit perlindungan kepada sisa pasukan Jipang itu. Sesaat lagi mereka telah sampai ke batas hutan, dan sesaat lagi mataharipun akan tenggelam di bawah cakrawala. Tetapi waktu yang sesaat itu adalah waktu yang menentukan bagi Macan Kepatihan sendiri yang mati-matian mencoba melindungi anak buahnya sejauh-jauh yang dapat dilakukan.
Setiap kali goresan-goresan ditubuhnya itu bertambah-tambah juga. Setiap kali ia menghindari seorang Senapati Pajang, maka setiap kali ditemuinya Senapati yang lain, seakan-akan segenap jalan telah tertutup rapat baginya.
Untara, Widura, Agung Sedayu dan anak yang gemuk bulat itu. Anak yang mewakili anak-anak muda Sangkal Putung. Tidak seperti dalam pertempuran yang terdahulu, maka kini Swandaru telah memiliki bekal dari gurunya, Kiai Gringsing meskipun belum setinggi Agung Sedayu.
Macan Kepatihan melihat bahwa kemungkinannya untuk menghindar telah tertutup rapat-rapat. Tetapi ia melihat juga, bahwa pasukannya telah hampir mencapai ujung hutan dan bahkan ia melihat juga bahwa warna merah di langit sudah menjadi semakin suram.
Setiap pemimpin kelompok prajurit Pajang telah berusaha untuk memperlambat gerakan mundur pasukan Jipang. Tetapi setiap kali usaha mereka terganggu oleh hiruk pikuk yang ditimbulkan oleh Tohpati dan beberapa orang yang terlalu setia kepadanya. Meskipun satu demi satu orang-orang itu terpaksa menjadi korban. Namun beberapa langkah lagi, pertempuran itu telah sampai di batas hutan. Batas yang menentukan, bahwa pasukan Jipang telah berhasil dalam gerakan menghindarkan diri dari kehancuran mutlak meskipun untuk tujuan itu, korban harus berjatuhan.
(Bersambung)
BUKU 12.6
Dalam pada itu Macan Kepatihan masih juga berjuang sekuat-kuat tenaganya. Dalam hiruk-pikuk yang semakin riuh, dalam ketegangan yang semakin memuncak sejalan dengan jarak hutan yang semakin pendek dan matahari yang semakin rendah, betapa Macan Kepatihan harus berjuang melawan prajurit-prajurit Pajang yang berkerumun di sekitarnya seperti semut mengerumuni gula. Namun sekali-kali lingkaran prajurit Pajang itu menebar apabila tongkat Tohpati terayun berputaran. Tetapi Widura, Untara, Agung Sedayu dan Swandaru tidak turut berpencaran mundur. Mereka siap menunggu setiap kemungkinan dengan pedang di tangan mereka. Setiap kali Macan Kepatihan meloncat ke salah seorang dari mereka, maka pedang di dalam genggaman menyambutnya dengan penuh gairah. Dan setiap kali pula tubuh Tohpati menjadi bertambah rapat dihiasi dengan luka-luka yang mengalirkan darahnya yang merah. Seakan-akan warna merah bara yang menyala.
Tetapi tubuh Tohpati itu adalah tubuh yang terdiri dari kulit daging dan tulang. Betapa besar tekad yang menyala di dalam dadanya, namun kekuatan tubuhnya ternyata sangat terbatas sebagai tubuh manusia biasa. Sehingga semakin lama, Macan yang garang itu pun menjadi semakin lemah, meskipun tekadnya sama sekali tidak surut.
Sumangkar menyaksikan semuanya itu dari jarak yang semakin dekat. Sumangkar sendiri kini berdiri di batas hutan, di atas sebongkah batu padas. Sekali-sekali wajahnya menjadi tegang, dan sekali-sekali ia memalingkan wajahnya. Meskipun warna-warna senja telah menjadi suram, namun Sumangkar yang tua itu masih dapat menyaksikan betapa Macan Kepatihan mengamuk seperti harimau lapar. Tetapi di sekitarnya berdiri senapati-senapati Pajang, Untara, Widura, Agung Sedayu dan Swandaru. Meskipun keempat orang itu ternyata telah dikekang oleh kejantanan mereka sehingga mereka tidak bertempur berpasangan bersama-sama. Dan bahkan seakan-akan mereka menunggu dengan tekunnya, siapakah di antara mereka yang dipilih oleh Macan Kepatihan itu melawannya. Namun Tohpati tidak segera berbuat demikian. Ia masih saja berusaha untuk melepaskan dirinya dan berjuang di antara hiruk-pikuk pasukan-pasukan Pajang, meskipun ternyata usahanya sia-sia.
Tetapi tiba-tiba gerak Tohpati itu terhenti. Ditegakkannya lehernya tinggi-tinggi. Ia masih melihat pasukan yang bertempur itu susut seperti air yang tergenang dan tiba-tiba mendapatkan saluran untuk mengalir. Bahkan seolah-olah seluruh pasukan yang bertempur itu terhisap masuk ke dalam hutan. Hati Tohpati itu berdesir. Tiba-tiba terdengar ia berteriak, “Hei, apakah kalian berhasil?”
Tak ada jawaban. Tetapi dengan demikian Tohpati itu yakin bahwa pasukannya telah berhasil menyelamatkan diri ke dalam hutan itu. Apalagi matahari telah sedemikian rendahnya sehingga di dalam hutan itu pasti sudah menjadi semakin gelap.
Terdengarlah kemudian suara tertawa Tohpati itu meledak. Berkepanjangan seperti gelombang laut menempa pantai, beruntun bergulung-gulung berkepanjangan. Di antara derai tertawanya terdengar kata-katanya, “Bagus. Bagus. Kalian telah berhasil.”
Untara, Widura, Agung Sedayu dan Swandaru melihat pula pasukan Jipang yang berhasil melepaskan diri itu. Terdengar gigi mereka gemeretak. Hampir-hampir mereka berloncatan mengejar pasukan yang berlari itu. Tetapi kesadaran mereka, bahwa hal itu tidak akan berarti sama sekali, telah mencegah mereka. Dan bahkan kemudian mereka menyadari, bahwa di antara mereka masih berdiri senapati Jipang yang terpercaya, Macan Kepatihan.
Keempat senapati Pajang itu berdiri mematung. Ujung-ujung pedang mereka lurus-lurus terarah kepada Macan Kepatihan yang masih saja tertawa terbahak-bahak. Seakan-akan sama sekali tidak dilihatnya keempat Senapati yang berdiri mengitarinya. Untara. Widura, Agung Sedayu dan Swandaru itupun belum juga mengganggunya. Dibiarkannya Macan Kepatihan itu tertawa sepuas-puasnya. Baru ketika suara tertawa itu mereda, mereka berempat seperti berjanji maju beberapa langkah mendekati.
Tohpati itupun kemudian tersadar bahwa ia masih berada dalam kepungan. Apalagi terasa olehnya bahwa darahnya telah terlampau banyak mengalir. Namun ia adalah seorang Senapati. Karena itu dengan lantang ia berkata, “Ayo, inilah Macan Kepatihan. Majulah bersama-sama hai orang-orang Pajang.”
Untara mengerutkan alisnya. Ketika ia memandangi keadaan di sekelilingnya, dilihatnya beberapa orang prajurit masih berdiri mengerumuninya, selain mereka yang berusaha mengejar prajurit Jipang ke dalam hutan, yang pasti tidak akan banyak hasilnya. Tetapi dalam keadaan yang demikian, terasa seakan-akan ia tidak sedang berada dalam peperangan yang masing-masing telah memasang gelar yang sempurna. Kini, ia merasa seakan-akan ia berhadapan seorang dengan seorang. Untara dan Macan Kepatihan. Karena itu, maka Untara itupun melangkah maju sambil berkata, “Kakang Tohpati. Kalau Kakang bertempur seorang diri, maka salah seorang dari kamipun akan melayani seorang diri pula.”
Tohpati mengerutkan keningnya. Kemudian terdengar ia menggeram. Namun di dalam hatinya terbersitlah perasaan hormatnya kepada senapati muda ini. Dalam peperangan sebenarnya Untara dapat menempuh jalan lain untuk membunuhnya. Ia dapat memerintahkan setiap orang dan senapati bawahannya untuk membunuhnya beramai-ramai. Tetapi Untara tidak berbuat demikian. la masih menghargai nilai-nilai keperwiraan orang-seorang, sehingga betapa berat akibatnya, ia menyediakan djri untuk melakukan perang tanding.
Macan Kepatihan itu tidak segera menjawab. Perlahan-lahan ia memandang seorang demi seorang. Untara, Widura, Agung Sedayu dan Swandaru. Ketika mata Tohpati hinggap pada anak muda yang bertubuh bulat itu hati Untara menjadi berdebar-debar. Barulah disadari kesalahannya. la tidak dengan tegas menawarkan dirinya sendiri untuk menghadapi Tohpati, tetapi ia memberi kesempatan kepada Macan Kepatihan untuk memilih lawan. Apabila kemudian Macan Kepatihan itu memilih Swandaru atau Agung Sedayu sekalipun maka keadaan anak-anak muda itu pasti akan sangat mengkhawatirkan. Meskipun Tohpati sudah bermandikan darah karena luka-luka pada seluruh tubuhnya, namun tandangnya masih saja segarang Macan Kepatihan pada saat ia terjun di dalam arena peperangan itu.
Tetapi agaknya Swandaru sama sekali tidak menginsyafi bahaya itu. Ketika Tohpati memandangnya dengan tajamnya, anak muda itu tersenyum. Senyum yang hampir-hampir tak pernah hilang dari bibirnya. la kini sama sekali tidak takut menghadapi harimau yang garang itu. Bahkan ia ingin tahu, mencoba, sampai di mana kemampuannya setelah ia berguru kepada Kyai Gringsing.
Tetapi Tohpati bukan seorang yang licik. Ia tidak dapat merendahkan harga dirinya, sebagaimana Untara telah bersikap jantan pula kepadanya. Ia tahu benar, bahwa yang paling lemah dari mereka berempat adalah anak yang gemuk bulat itu. Tetapi dengan lantang ia menjawab, “Baik Adi Untara. Kalau kau menawarkan lawan, baiklah aku memilih. Orang yang aku pilih adalah Adi sendiri. Untara, senapati Pajang yang mendapat kepercayaan untuk menyelesaikan sisa-sisa pasukan Jipang di Lereng Gunung Merapi.”
Hati Untara berdesir mendengar jawaban itu. Sebagaimana Tohpati merasa hormat akan keputusannya untuk melakukan perang tanding, maka Untara pun menganggukkan kepalanya sebagai ungkapan perasaan hormatnya. “Terima kasih,” sambutnya. “Aku telah bersedia.”
Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Selangkah ia maju menghadap kepada Untara. Sementara Untara maju pula, mendekatinya. Dalam pada itu Untara masih sempat berbisik kepada Widura, “Paman, tariklah seluruh pasukan. Sangat berbahaya untuk bekejar-kejaran di dalam hutan yang kurang kita kenal.”
Widura mengangguk. Tetapi ia tidak mau meninggalkan perang tanding itu. Karena itu, diperintahkannya seorang penghubung untuk memukul tanda, dan memerintahkannya supaya Hudaya menghimpun kembali segenap pasukan.
Sementara itu, Untara kini telah siap menghadapi setiap kemungkinan. Tohpati pun telah berdiri dengan kaki renggang menghadapi senapati muda itu. Tongkatnya erat tergenggam di tangannya yang telah basah oleh darah. Seleret-seleret warna merah tergores pula pada tongkat baja putihnya. Pada saat-saat tongkat itu menyambar kening lawan, maka darah yang terpercik daripadanya pasti membasahi tongkatnya pula.
“Ayo, mulailah Untara. Senja telah hampir menjelang kelam. Kita selesaikan, persoalan di antara kita sebelum malam,” geram Tohpati.
Untara tidak menjawab. Ia melangkah selangkah lagi maju. Pedangnya segera menunduk tepat mengarah kedada lawannya. Dalam pada itu, Tohpati tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia meloncat menyerang dengan sebuah ayunan tongkat baja putihnya. Meskipun lukanya arang kranjang, namun kecepatannya bergerak masih belum susut barang serambutpun.
Untara yang telah bersiap menghadapi kemungkinan itu, dengan cepatnya menghindarkan diri. Bahkan pedangnyapun segera terjulur mematuk lambung. Namun Tohpati masih sempat pula mengelakkan dirinya.
Demikianlah kini mereka terlihat dalam perang tanding yang dahsyat. Tohpati memeras ilmunya dalam kemungkinan yang terakhir. Disadarinya bahwa Untara adalah seorang senapati yang pilih tanding. Dalam keadaan yang sempurnapun ia tidak akan dapat mengalahkannya, apalagi kini. Darahnya telah menetes dari luka, dan keringatnyapun seolah-olah telah kering terperas. Tetapi ia adalah seorang senapati besar yang sadar akan kebesaran dan harga dirinya sebagai seorang laki-laki jantan.
Meskipun senja telah menjadi semakin suram namun Sumangkar masih dapat melihat apa yang terjadi di tengah-tengah arena itu. Ia melihat dari daerah yang lebih kelam karena dedaunan. Bahkan kemudian ia tidak puas melihat peristiwa itu dari tempatnya.
Tiba-tiba ia melompat turun dari bongkahan batu padas itu dan menyusur tepi hutan yang kegelapan maju semakin dekat. Di belakangnya Kyai Gringsing selalu mengikutinya. la tidak ingin melepaskan Sumangkar. Kalau-kalau orang itu berbuat sesuatu dengan tiba-tiba. Tetapi ternyata Sumangkar itu tidak langsung menuju ke arena. Beberapa langkah ia berhenti, dan kembali ia mencari tempat yang agak tinggi untuk menyaksikan perkelahian antara Macan Kepatihan dan Tohpati. Sedang Kyai Gringsing pun tidak kalah nafsunya untuk melihat pertempuran itu, sehingga kemudian ia berdiri tepat di belakang Sumangkar.
Dengan tegangnya Sumangkar mengikuti perkelahian itu. Selangkah demi selangkah dinilainya dengan seksama. Ia sama sekali tidak memperdulikan hiruk-pikuk para prajurit Pajang yang sedang berhimpun kembali, tidak jauh di hadapannya, namun para prajurit Pajang itupun sama sekali tidak memperhatikannya, karena ujung malam yang turun perlahan-lahan, seperti kabut yang hitam merayap dari langit merata keseluruh permukaan bumi.
Tetapi pertempuran antara Macan Kepatihan dan Untara masih berlangsung terus. Semakin lama semakin dahsyat. Sedang Sumangkar yang menyaksikan pertempuran itupun menjadi semakin tegang.
Tiba-tiba ketegangan Sumangkar itupun memuncak. Kini ia berdiri di atas ujung kakinya dan dijulurkannya lehernya, supaya ia dapat melihat semakin jelas.
“Oh,” desahnya kemudian. Suaranya seolah-olah tersekat di kerongkongan, dan darahnya serasa berhenti mengalir. Diangkatnya kedua belah tangannya menutup wajahnya. Perlahan-lahan ia berpaling. Gumamnya perlahan-lahan dengan suara parau, “Raden.”
Kyai Gringsingpun melihat apa yang terjadi. Ia melihat Tohpati menyerang dengan kekuatannya yang terakhir. Namun tubuh Untara yang masih segar sempat menghindarinya, tetapi ujung pedangnya dijulurkannya lurus-lurus tepat mengarah ke lambung lawannya. Tohpati yang sudah menjadi semakin lemah, kurang tepat memperhitungkan waktu. Ia terdorong oleh kekuatannya sendiri, dan langsung lambungnya tersobek oleh pedang Untara. Terdengar Tohpati menggeram pendek. Selangkah ia surut. sebuah luka yang dalam menganga pada lambungnya.
Betapa kemarahannya membakar jantungnya, namun tiba-tiba tarasa tulang-tulangnya seolah-olah terlepas dari tubuhnya. Meskipun demikian tanpa disadari oleh Untara, Macan Kepatihan melontarkan tongkatnya secepat petir menyambar di udara. Betapa Untara terkejut melihat sambaran tongkat baja putih berkepala tengkorak itu.
(Bersambung)
BUKU 12.7
Dengan kecepatan yang mungkin dilakukan ia merendahkan dirinya dan berusaha memukul tongkat itu dengan pedangnya. Tetapi demikian cepatnya sehingga ia tidak dapat melakukannya dengan sempurna. Pedangnya berhasil menyentuh kepala tongkat itu, tetapi dengan demikian ujung yang lain menyadi oleng dan dengan kerasnya memukul kening Untara.
Untara yang sedang merendahkan diri itu terdorong mundur, dan sesaat ia kehilangan keseimbangan. Dengan kerasnya ia terbanting jatuh. Beberapa kali ia berguling. Matanya terasa menjadi gelap dan kepalanya menyadi sangat pening. Seakan-akan sebuah bintang di langit telah jatuh menimpanya. Namun ia masih cukup sadar. Ia sadar bahwa lawannya, Macan Kepatihan masih tegak berdiri di hadapannya. Karena itu cepat ia memusatkan kekuatannya dan meskipun dengan tertatih-tatih ia mencoba berdiri, bersiaga menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi atasnya. Tetapi kini ia sudah tidak menggenggam pedang lagi. Pedangnya terpelanting dari tangannya, pada saat ia jatuh berguling di tanah.
Meskipun demikian terasa kening Untara masih sedemikian sakitnya. Bintik-bintik putih seolah-olah berterbangan di dalam rongga matanya. Beratus-ratus bahkan beribu-ribu. Karena itu maka dengan sekuat tenaganya, ia mencoba untuk menembus keremangan ujung malam dengan pandangan matanya yang kabur.
Untara itu melihat Tohpati maju selangkah mendekatinya. Namun tiba-tiba ia terhuyung-huyung. Sesaat kemudian Macan yang garang itu terjatuh pada lututnya dan mencoba menahan tubuhnya dengan kedua tangannya.
Untara masih tetap berdiri di tempatnya. Sekilas matanya menyambar orang-orang yang berdiri mengitarinya. Widura, Agung Sedaju, Swandaru Geni dan kini beberapa orang lain telah hadir pula. Ki Demang Sangkal Putung dan beberapa orang pemimpin kelompok. Ketika ia kembali memandangi Tohpati, maka dilihatnya orang itu menjadi semakin lemah.
Sesaat tepi hutan itu dicengkam oleh kesepian. Kesepian yang tegang. Desir angin di dedaunan terdengar seperti tembang megatruh yang menawan hati. Sayup-sayup di kejauhan suara burung hantu terputus-putus seperti sedu sedan yang pedih, sepedih hati biyung kehilangan anaknya di medan peperangan.
Dalam kesenyapan itu, tiba-tiba terdengar suara Tohpati bergetar di antara desah angin malam yang lirih, “Adi Untara, aku mengakui kemenanganmu.”
Dada Untara berdesir mendengar suara itu. Bukan saja Untara, tetapi juga Widura, Agung Sedaju, Swandaru, Ki Demang Sangkal Putung dan beberapa orang yang lain. Namun di antara mereka yang paling dalam merasakan sentuhan suara itu adalah Untara sendiri, sehingga justru sesaat ia diam mematung. la tersadar ketika sekali lagi Tohpati berkata dengan suaranya yang parau dalam, “Aku mengucapkan selamat atas kemenangan ini Adi Untara.”

Untara tidak dapat menahan hatinya lagi mendengar pengakuan yang jujur itu. Pengakuan dari seorang Senapati jantan dari Jipang. Karena itu, maka beberapa langkah ia maju mendekati Macan Kepatihan yang sudah menjadi sangat lemas.
“Kakang Tohpati …,” terdengar suara Untara patah-patah, “maafkan aku.”
Tohpati menggeleng, “Jangan berkata demikian Untara. Berkatalah dengan nada seorang Senapati yang menang dalam peperangan. Supaya aku puas mengalami kekalahan ini.”
Untara terdiam. la tidak tahu apa yang akan diucapkannya. Karena itu kembali ia mematung. Matanya tajam-tajam menembus malam yang semakin gelap, hinggap pada tubuh yang sudah menjadi kian lemah dan lemah.
Perlahan-lahan Tohpati terduduk di tanah. Bahkan kemudian terdengar ia menggeram, “Aku akan mati.”
Untara maju selangkah lagi. Ia melihat dengan wajah yang tegang Tohpati menjatuhkan dirinya, terlentang sambil menahan desah yang kadang-kadang terlontar dari mulutnya.
Sumangkar melihat Tohpati itu terbujur di tanah, diam hatinya terasa menyadi sangat pedih. Anak itu bukan anaknya, bukan muridnya, tetapi ia telah berada dalam satu lingkungan yang sama-sama dialami. Pahit, manis dan lebih-lebih lagi ia adalah murid saudara seperguruannya. Harapan sebagai penerus ilmu perguruan Kedung Jati. Tetapi anak itu kini terbujur dengan darah yang mengalir dan luka-lukanya yang arang kranjang. Darah Sumangkar itupun tiba-tiba bergelora. Dengan tangkasnya la meloncat turun dari bongkahan batu padas sambil menggeram, “Celaka aku, Kyai…”
Kyai Gringsing terkejut melihat sikap itu, sehingga untuk sesaat ia masih berdiam diri. Namun lamat-lamat ia melihat wajah Sumangkar yang kosong memancarkan perasaan putus asa.
“Kyai,” berkata Sumangkar pula, “tak ada yang menahan aku untuk hidup terus. Karena itu, marilah kita membuat perhitungan terakhir. Perhitungan orang-orang tua.”
Kyai Gringsing menarik nafas dalam-dalam, tetapi ia belum beranjak dari tempatnya. Bahkan ia masih sempat berpaling dan melihat Untara, Widura, Agung Sedaju dan Swandaru beserta beberapa orang lain berlutut di samping Macan Kepatihan yang nafasnya seakan-akan tinggal tersangkut di ujung kerongkongannya.
“He Kyai,” panggil Sumangkar, “turunlah. Kita bertempur seorang lawan seorang. Antarkan aku menemani Angger Macan Kepatihan”
Sekali lagi Kyai Gringsing memandangi orang-orang yang berdiri mengerumuni Macan Kepatihan dan orang yang berlutut di sekitarnya. Ternyata tak seorangpun di antara mereka yang mendengar kata-kata Sumangkar, sehingga mereka berdua masih tetap belum dilihat oleh mereka. Namun Kyai Gringsing masih belum bergerak. Tetapi ia menjadi kian berhati-hati. Ketika dilihatnya Sumangkar menggenggam tongkatnya semakin erat pada pangkalnya siap untuk digunakannya.
Dan apa yang disangkanya itu terjadi. Ketika Kyai Gringsing tidak juga mau turun dari bongkahan batu padas, tiba-tiba Sumangkar berkata, “Baiklah kalau Kyai tidak mau mulai. Aku yang akan mulai. Terserahlah kepadamu apakah kau bersedia untuk melawan dan membunuhku, atau aku yang akan membunuhmu.”
Sumangkar tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia meloncat dan mengayunkan tongkatnya menyambar lutut Kyai Gringsing. Tetapi Kyai Gringsing telah bersiaga. Segera ia meloncat menghindar dan sekaligus melontar turun dari atas batu padas itu.
Namun Sumangkar tidak melepaskannya. Dengan sebuah loncatan yang panjang dan cepat ia mengejarnya. Seperti orang kerasukan, tongkatnya terayun-ayun deras sekali menyambar-nyambar. Seolah-olah ia telah kehilangan segenap perhitungan dan pikirannya yang bening seperti Macan Kepatihan sendiri.
Kyai Gringsingpun segera berloncatan menghindari. Dengan lincahnya ia melontar-lontarkan dirinya, menyusup disela-sela putaran tongkat baja putih berkepala tengkorak yang bergerak secepat tatit. Tetapi Kyai Gringsing mampu bergerak melampaui kecepatan tongkat itu, sehingga berkali-kali ia masih saja dapat menghindari setiap serangan yang datang
Sumangkar benar-benar telah waringuten. Tongkatnya bergerak semakin lama semakin cepat, sehingga kemudian seolah-olah telah berubah menyadi gumpalan awan putih yang mengejar Kyai Gringsing kemana ia pergi. Gumpalan awan yang siap untuk menelannya dan menghancur-lumatkan.
Demikianlah maka serangan Sumangkar itu menyadi semakin lama semakin dahsyat seperti prahara yang mengamuk di padang-padang yang dengan dahsyatnya pula menghantam bukit-bukit dan lereng-lereng gunung. Namun Kyai Gringsing adalah lawan yang tangguh baginya. Dengan kecepatan yang melampaui kecepatan prahara, ia selalu mampu menghindari setiap serangan yang datang.
Betapapun kalutnya otak Sumangkar, namun ia bukanlah seorang yang mudah kehilangan harga diri dan kejantanan. Usianya yang telah lanjut itupun telah menuntunnya menjadi seorang yang dapat melikat sikap-sikap yang tidak wajar. Demikian pula kali ini. Beberapa kali ia mencoba meyakinkan dugaannya dengan memperketat serangan-serangannya atas Kyai Gringsing itu. Namun akhirnya ia yakin, bahwa Kyai Gringsing menghadapinya dalam sikap yang tidak wajar. Orang itu sama sekali tidak pernah membalasnya dengan serangan-serangan, tetapi orang itu hanya sekedar menghindari serangan-serangannya yang bahkan dapat berakibat maut. Karena itu, maka betapapun gelap pikirannya, namun ia masih mampu untuk manilai sikap itu. Sehingga tiba-tiba ia menghentikan serangannya sambil berkata, “Kyai, kenapa Kyai tidak melawan? Kenapa Kyai hanya sekedar menghindar dan meloncat surut? Apakah menurut anggapan Kyai, Sumangkar tidak cukup bernilai untuk berdiri sebagai lawan Kyai?”
Kyai Gringsing menarik nafas. Dengan dahi yang berkerut-kerut ia menjawab, “Tidak. Sama sekali tidak. Aku menghargai Adi Sumangkar sebagai murid kedua dari perguruan Kedung Jati yang tak kalah nilainya dari Ki Patih Mantahun sendiri. Tetapi kini kau tidak sedang bertempur melawan Kyai Gringsing, sehingga karena itu aku tidak dapat melayanimu.”
“He,” Sumangkar terkejut. “Kenapa aku kau anggap tidak sedang bertempur melawan Kyai Gringsing?”
Kyai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Dijawabnya, “Adi Sumangkar. Ternyata kau tidak sedang bertempur, tetapi kini kau sedang membunuh dirimu karena itu aku tidak dapat menjadi alat untuk itu.”
Dada Sumangkar berdesir mendengar jawaban itu. Terasa sesuatu menyentuh langsung ke pusat jantungnya. Sekali terdengar ia menggeram, namun kemudian tangannya menjadi lemah. Tongkatnya kini tergantung lunglai pada tangan kanannya yang kendor. Perlahan-lahan terdengar ia bergumam, “Hem, Kyai menebak tepat. Aku memang sedang membunuh diri, dan aku mengharap Kyai dapat membantuku.”
Kyai Gringsing menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak Adi Sumangkar. Aku tidak dapat melakukannya.”
“Aku tidak peduli. Kalau Kyai tidak mau membunuhku, maka jangan menyesal kalau aku yang membunuhmu. Namun kata-kata Sumangkar itu sama sekali tidak meyakinkan. Tangannya masih tergantung lemah dan genggamannya atas senjatanyapun tidak bertambah erat.
“Adi Sumangkar,” berkata Kyai Gringsing. “Apakah keputusanmu itu sudah kau pertimbangkan baik-baik.”
“Tentu,” Sahut Sumangkar. “Keputusanku tidak akan dapat berubah.”
Kyai Gringsing memandangi wajah Sumangkar tajam-tajam. Meskipun malam telah menjadi semakin kelam namun terasa oleh Kyai Gringsing, bahwa pada wajah Sumangkar benar-benar terbayang keputusasaan yang dalam.
“Adi,” berkata Kyai Gringsing, “kenapa kau akan membunuh dirimu?”
“Aku telah jemu melihat kehidupan Kyai, hidupku, hidup orang-orang Jipang dan hidup kita semua.”
“Apakah Adi sudah berpikir jauh? Mungkin Adi ingin menghindari kepahitan yang mencengkeram jantung Adi, namun dengan jalan yang sama sekali salah. Macan Kepatihan telah mati terbunuh dalam peperangan sebagai seorang jantan. Tetapi bagaimana kata orang dengan Sumangkar? Murid kedua dari perguruan Kedung Jati?”
“Aku mati dalam peperangan melawan seorang sakti bernama Kyai Gringsing.”
Kyai Gringsing menggeleng. “Tidak. Kesannya akan menjadi lain sekali. Sumangkar mati membunuh diri, itupun terserah kepadamu Adi. Tetapi aku tidak dapat mendengar orang lain mengatakan, Kyai Gringsing-lah yang telah melakukan itu. Tidak. Aku bukan alat untuk membunuh diri.”
“Tak ada orang yang mengetahui, bahwa kau membunuh aku pada saat hatiku gelap.”
“Ada.”
“Siapa?”
“Hatiku sendiri”
“Persetan!” geram Sumangkar. “Terserah kepadamu. Kalau kau tidak mau, maka aku akan membunuhmu.”
“Aku akan lari meninggalkan tempat ini sejauh-jauhnya. Kau pasti tidak akan dapat mengejar aku. Dan aku akan bersembunyi sampai terdengar kabar, bahwa Sumangkar telah mati. Entah ia membunuh diri, entah ia mati dikeroyok orang.”
Kembali dada Sumangkar menjadi bergelora. Terasa bahwa kata-kata Kyai Gringsing itu menyentuh langsung ke pusat jantungnya, sehingga karena itu ia diam sesaat mencoba memandangi wajah Kyai Gringsing yang seolah-olah ditabiri oleh sebuah selaput yang kelam.
Yang terdengar kemudian adalah suara Kyai Gringsing kembali, “Adi Sumangkar. Daripada Adi sibuk membunuh apakah tidak lebih baik Adi mencoba melihat, apakah Raden Tohpati itu masih hidup ataukah benar-benar sudah mati?”
“Tak ada gunanya,” geram sumangkar.
“Mungkin ada. Kalau ia masih hidup ia akan dapat memberi pesan kepada Adi.”
“Kalau ia sudah mati?”
“Adi akan dapat mengurusnya. Menguburkannya dengan baik sebagai murid dari kakak seperguruanmu.”
Kembali Sumangkar terdiam. Namun tiba-tiba ia berkata, “Apakah Untara akan mengijinkan aku mendekatinya?”
“Aku sangka ia tidak akan berkeberatan.”
“Apakah Kyai yakin?”
“Ya.”
“Kalau ia menolak kehadiranku, maka aku akan tersinggung sekali karenanya. Padahal aku sama sekali tidak ingin membunuh lagi. Bahkan aku ingin terbunuh oleh siapapun.”
“Marilah kita pergi bersama.”
Sumangkar mengerutkan keningnya. Namun Kyai Gringsing seakan-akan tidak mempedulikannya lagi. Ia berjalan ke arah orang-orang yang berkerumun itu sambil bergumam, “Marilah Adi.”
Sumangkar menjadi ragu-ragu sesaat. Tetapi kemudian iapun melangkah di samping Kyai Gringsing, berjalan ke arah Macan Kepatihan terbaring.
Ketika kemudian beberapa orang mendengar langkahnya, mereka menjadi terkejut. Mereka segera bersiaga. Tetapi dalam pada itu terdengar Kyai Gringsing berkata “Aku, Tanu Metir.”
“Oh,” desah beberapa orang.
Untara, Agung Sedayu dan orang-orang lainpun mendengar suara itu. Serentak mereka mengangkat kepala mereka dan mencoba mengetahui arah suara yang melontar dari luar lingkaran orang-orang yang sedang berkerumun.
“Apakah itu Kyai Tanu Metir?” bertanya Untara.
“Ya,” sahut suara itu.
(Bersambung)

No comments:

Post a Comment